Corona dan Hilangnya Solidaritas Kemanusiaan

Home / Kopi TIMES / Corona dan Hilangnya Solidaritas Kemanusiaan
Corona dan Hilangnya Solidaritas Kemanusiaan M Affian Nasser, Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an & Tafsir, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

TIMESKAPUAS, JAKARTA – Sampai saat ini sudah ratusan warga negara Indonesia yang positif terinfeksi wabah corona. Semua pihak dari berbagai latar belakang berbondong-bondong ikut mewartakannya, dan tak sedikit ada yang mendramatisir dengan membuat stigma ketakutan dan kepanikan, seolah-olah wabah corona adalah kiamat.

Virus corona memang sangat berbahaya, tetapi mendramatisir dan melebih-lebihkan pemberitaan itu jauh lebih berbahaya. Di tengah situasi seperti saat ini, yang penting untuk kita upayakan ialah saling menguatkan, saling merangkul, dan saling bergandengan tangan melawan virus yang berbahaya itu.

Ironisnya, hingga detik ini masih ada pihak-pihak tertentu yang memancing di air keruh, mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan meraup keuntungan, yakni dengan menimbun barang-barang dasar kebutuhan medis seperti masker dan hand sanitizer. Suatu fenomena yang sangat memprihatinkan.

Di tengah deraan mewabahnya virus corona di Indonesia, yang kita butuhkan saat ini adalah solidaritas kemanusiaan. Kita mesti kesampingkan semua muslihat untuk mencari keuntungan sesaat. Kita harus bersama-sama berdiri tegak dan tampil digarda terdepan untuk melawan stigma ketakutan. Bukan justru menambah ketakutan dengan menimbun dan membuat harga menjadi mahal.

Fenomena tersebut menjadi fakta bahwa solidaritas kemanusiaan kita saat ini sedang sakit, dan kita perlu kesadaran bersama untuk memulihkannya kembali. Kekuatan solidaritas yang dulu kita bangga-banggakan, makin ke sini, cara berpikir anak bangsa kita semakin pragmatis, mereka berupaya meraup keuntungan sebesar-besarnya meski dengan konsekuensi mencederai solidaritas kemanusiaan.

Fenomena penimbunan barang dan modus meraup untung dengan menaikkan harga berlipat-lipat di atas kewajaran sudah barang tentu sangat berdampak dengan merugikan warga masyarakat yang sedang membutuhkan. Bukan saja warga yang sedang dilanda kesadaran baru untuk melindungi kesehatan diri, namun juga warga penderita beberapa penyakit yang memang membutuhkan kebutuhan dasar medis, –ada atau tidak ada corona– seperti penderita leukemia, flu, batuk, dan sebagainya.

Ketakutan terhadap corona semakin akut ketika instrumen dasar medis seperti masker dan hand sanitizer mengalami kenaikan harga. Orang bukan hanya panik menghadapi wabah corona, tetapi juga panik menghadapi sejumlah kelangkaan dari instrumen dasar medis lainnya.

Sudah bukan kali pertama di Indonesia terjadi fenomena penimbunan barang untuk menciptakan suatu kelangkaan. Kita sudah sangat sering disuguhkan terkait tontonan yang memalukan ini. Solidaritas yang dulu kita puja-puji ternyata hanya sebatas solidaritas semu. Ketika bangsa ini sedang dalam kesulitan masih saja ada oknum-oknum tertentu yang berupaya untuk meraup keuntungan.

Lalu ke mana solidaritas kemanusiaan yang selama ini menjadi kebanggaan karakter bangsa? Apakah bangsa ini sedang menuju kegagalan untuk hidup sebagai bangsa ketika dalam situasi musibah masih menjadi lahan mengeruk keuntungan? Kita seharusnya malu melihat peristiwa ini, ketika pada saat yang sama di negara-negara yang acap kali kita tuding sebagai negara komunis atau kapitalis, justru mereka banyak membagikan kebutuhan dasar medis gratis bagi warganya.

Peristiwa ini patut menjadi perhatiaan serius dari semua pihak, terutama dari pihak pemerintah. Langkah-langkah hukum sudah pasti sangat tepat dan harus segera dilakukan. Setelah itu, penguatan kembali solidaritas kemanusiaan mutlak harus diupayakan. Karena jika peristiwa semacam ini terus dibiarkan, secara tidak sadar kita telah merusak sistem perilaku berbangsa dan bernegara.

Kita mungkin terlampau bangga dengan beberapa kali survei international yang menyebutkan, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tercatat paling dermawan berdasarkan faktor kesukarelaan berbagi dan sikap saling tolong-menolong yang begitu tinggi. Namun mengapa sikap luhur itu justru hilang, diuji ketika sedang terjadi bencana atau musibah, dan hilang ketika seseorang telah dihadapkan pada pilihan untuk berkorban atau meraup keuntungan.

Sehingga tak heran, ketika pada saat terjadi kesulitan maka disitulah akan muncul karakter asli manusia. Seseorang akan membuktikan dirinya sebagai patriot sejati ketika ia hadir pada saat kesulitan dan kesusahan sedang menimpa.

Terakhir, penulis ingin mengutip pernyataan dari Presiden Joko Widodo yang menyatakan; bahwa musuh terbesar kita saat ini bukanlah virus corona itu sendiri, melainkan rasa takut, cemas, panik, dan berita-berita hoaks. Sedangkan aset paling berharga kita saat ini adalah fakta, informasi, solidaritas, dan gotong royong.

Saatnya bangsa ini untuk memperkuat aset-aset berharga itu. Saatnya pula bangsa ini mesti kembali pada wujud aslinya sebagai bangsa yang berprinsipkan pada “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Artinya, kemanusiaan harus menjadi standar bersama dalam setiap kondisi apapun dan kemanusiaan itu harus diiringi dengan langkah keadilan dan keadaban. Wallahu a’lam bi al-shawab.

***

*) Penulis adalah M Affian Nasser, Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an & Tafsir, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com